Beranda Materi Kuliah PROSES PEMBUATAN KAPAL

PROSES PEMBUATAN KAPAL

20051
0
BERBAGI

Pada umumnya metode atau cara dalam proses pembuatan kapal terdiri dari dua cara yaitu cara pertama berdasarkan sistem, cara kedua berdasarkan tempat. Proses pembuatan kapal berdasarkan sistem terbagi menjadi tiga macam:

  1. Sistem seksi
  2. Sistem block seksi
  3. Sistem block

Pengertian seksi, block seksi dan block.

  1. Sistem seksi adalah sistem pembuatan kapal dimana bagian-bagian konstruksi dari tubuh kapal dibuat seksi perseksi. (perbagian) contoh: seksi bulkhead (sekat kedap air)

    1

    – Keuntungan:

    a. Tiap seksi dapat dibangun dalam waktu yang bersamaan tergantung kapasitas kerja bengkel.

    b. Waktu pembangunannya lebih pendek.

    c. Kualitas produksi lebih unggul disbanding sistem konfrensional.

    d. Mutu dari tiap seksi dapat dikontrol secara rinci.

    – Kerugian/kekurangan sistem seksi:

    a. Kekuatan pada kapal tergantung pada perencanaan pembagian badan kapal menjadibeberapa seksi dan juga teknik penyambungan antara dua buah seksi.

    b. Pengerjaan lebih sulit karena dalam proses penggabungan antara seksi memerlukanketepatan ukuran yang prima.

  2. Sistem block seksi adalah sistem pembuatan kapal dimana bagianbagian konstruksi dari kapal dalam fabrikasi dibuat gabungan seksiseksi sehingga membentuk block seksi, contoh bagian dari seksi-seksi geladak, seksi lambung dan bulkhead dibuat menjadi satu block seksi.

  3. Sistem block adalah sistem pembuatan kapal dimana badan kapal terbagi beberapa block, dimana tiap-tiap block sudah siap pakai. (lengkap dengan sistem perpipaannya).

2

          Pada bagian desain mencakup pekerjaan-pekerjaan antara lain penggambaran bagian-bagian konstruksi dan perhitungan atau perancangan–perancangan, selanjutnya gambar rencana gadinggading skala 1 : 1 di mould Loft, penandaan dalam proses pembuatan kapal dilakukan di bengkel. Berdasarkan tempatnya, pembuatan kapal dibagi menjadi dua macam:

  1. Fabrication adalah semua pekerjaan pembuatan kapal yang dikerjakan diluar tempat peluncuran dimana badan kapal dimasukkan dalam air.
  2. Erection adalah semua pekerjaan pembuatan kapal yang dikerjakan di tempat dimana kapal akan diluncurkan. Dalam hal ini pembuatan baik berupa seksi, block seksi, dan block semuanya dilakukan/dikerjakan di tempat tersebut.

3

TAHAP-TAHAP PEMBUATAN KAPAL

Dalam pembangunan kapal selalu mengikuti pentahapan sabagai berikut:

  1. Tahap Pembuatan Awal.
    Dalam tahap ini pekerjaan yang utama adalah pembentukan pelat yang dilakukan dengan pembersihan, penandaan, pemotongan, pembengkokkan, dan lain sebagainya.
  2. Tahap Perakitan Awal.
    Sebagian dari pelat dinding setelah dibuat biasanya langsung dikirimkan ke tempat perakitan. Tetapi konstruksi dalam seperti kerangka geladak atau dasar biasanya dirakit tersendiri lebih dahulu dalam tahap perakitan mula atau awal. Dalam tahap ini biasanya digunakan cara pengelasan tangan, pengelasan gaya berat, pengelasan rendam dan sebagianya. Apabila kapal kayu maka dilakukan proses penyambungan atau pengeleman.
  3. Tahap Perakitan.
    Ada tahap perakitan semua komponen baik yang datang dari pembuatan maupun dari perakitan awal dirakit menjadi kotak-kotak perakitan (dilas/dilem atau penyambungan). Pada kapal baja penyambungan antara kotak-kotak perakitan dilakukan dengan menggunakan las busur rendam otomatis. Dalam hal mengikat kerangka dan pelat dinding digunakan las tangan atau las gaya berat dengan elektroda khusus untuk pengelasan datar. Disamping cara pengelasan diatas digunakan juga cara lain tergantung dari bagian-bagian yang disambung dan posisi pengelasannya.
  4. Tahap Pembangunan.
    Kotak-kotak yang sudah dirakit kemudian disusun diatas galangan dengan bantuan mesin angkat (crane). Setelah diatur kotakkotak tersebut kamudian dilas dengan menggunakan dua macam cara pengelasan baik dengan las biasa maupun dengan las otomatik khusus.

Sesuai dengan fungsinya untuk membangun kapal, maka sebuah galangan kapal pada umumnya memiliki peralatan-peralatan seperti terlihat pada gambar 2.2 dan gambar 2.3 berikut.

456 7

 

MOULD LOFT

Mould loft adalah menggambar bentuk badan kapal maupun dalam skala 1:1 pada lantai gambar, meliputi gambar seluruh gadinggading kapal dan perletakan senta, serta gambar bentangan dari pelat kapal.

Fasilitas yang dibutuhkan:

  • Sebuah lantai gambar yang terbuat dari papan dengan dasar warna yang agak gelap,misalnya hijau dan harus terlindungi dalam gedung.
  • Material-material pembuat rambu, yang biasa dipakai adalah kayu plywood, tripleks, kertas film/transparan dan bilah kayu yang mudah dilengkungkan.
  • Besi dan ganjal pemberat.
  • Alat-alat gambar misalnya penggaris, jangka, meteran dll.
  • Sipatan, yaitu benang yang dipergunakan untuk membuat garis lurus dengan cara menghentakkannya, sehingga akan meninggalkan suatu garis lurus karena benang diberi zat pewarna (cairan lem putih atau warna lain).
  • Alat tulis cairan pewarna.
  • Alat-alat perkayuan misalnya mesin bor, mesin potong, palu dan paku.

Tujuan Penggambaran Skala 1:1

Dengan tergambarnya bentuk badan kapal/konstruksi kapal dalam skala 1:1 maka akan didapat bentuk badan kapal yang akurat dan ukuran konstruksi kapal yang tepat, sehingga dalam proses pembangunannya segala ukuran yang terpakai sudah tepat dan tidak ada kesalahan bentuk maupun ukuran. Hal ini sangat diperlukan oleh pihak pelaksana, untuk menunjang kemudahan pelaksanaan dan kualitas hasil pekerjaan.

Dari hasil penggambaran berupa bentuk-bentuk dan ukuran yang sebenarnya, akan dipindahkan dalam bentuk mal/template yang lengkap dengan data-data ukuran serta data-data yang lainnya, yang akan diserahkan ke bagaian fabrikasi untuk dibuatkan komponen-komponen sesuai bentuk dan ukuran pada template masing -masing.

Dalam penggambaran bentuk badan kapal sesungguhnya, tidak selalu sepanjang ukuran kapal seluruhnya, terutama untuk daerah tengah (parallel middle body). Hal ini dilakukan untuk penghematan tempat, pekerjaan. Dapat pula gambar-gambar digambar secara menumpuk, untuk mengatasi kesulitan membaca gambar yang menumpuk maka digunakan warna cat yang berbeda.

Gambar-gambar pada mould loft:

  1. Lines plan.
  2. Bentangan/bukaan kulit.
  3. Segala detail konstruksi yang diperlukan.
  4. Dan gambar lain yang dianggap diperlukan, karena kesulitan pembuatan mal bila tidak disediakan gambar ukuran sebenarnya.

8

SUB ASSEMBLY

Tugas dari bagian sub assembly adalah menggabungkan beberapa komponen kecil menjadi komponen block antara lain:

  • Pemasangan stiffener pada pelat sekat.
  • Pembuatan Wrang.
  • Penyambungan dua lembar pelat atau lebih.
  • Membantu tugas bagian assembly.

Fitting.

9

Pemasangan stiffener pada pelat sekat:

  • Stiffener diletakkan pada posisinya dengan tanda yang ada di pelat.
  • Diadakan las ikat.
  • Setelah tepat diadakan pengelasan menyeluruh.

Secara garis besar bagian Sub Assembly dibedakan menjadi dua bagian:

a. Fitting (penyetelan)

b. Welding (pengelasan)

10

Sedangkan bagian Assembly dibagi menjadi:

  • Plate Joinning
  • Fitting
  • Welding
  • Pointing

Assembly

Fitting : Penyetelan bagian-bagian yang akan disambung hingga sesuai dengan tanda yang telahada sebelum dilaksanakan pengelasan.

Welding : Proses penyambungan material baik 2 atau lebih secara manual, semi otomatis danotomatis.

  1. Manual Electric Welding
    Penyambungan 2 logam sengan cara memanaskan hingga melebur menjadi satu dabsebagai logam pengisis diambil dari elektroda, pengoperasian dengan tangan.Penggunaan manual electric welding ini untuk menyambung komponen konstruksi yangterletak dalam posisi yang tak dapat dicapai oleh penggunaan peralatan las yang otomatis.
  2. Automatic Electric Welding
    Digunakan untuk mengelas benda-benda yang datar permukaannya dan cukup panjangjarak pengelasannya.
  3. Acetyline Welding
    Penyambungan dua buah logam dengan jalan meleburkan kedua ujung logam dan diikuti oleh pengisian kawat logam pengisi. Panas yang digunakan berupa campuran 02 dan gas Acetiline dan dengan bantuan penekanan dan panas dari campuran atau nyala didua gas tersebut, penggunaan las acetylene dalam proses assembly (sub assembly dan assembly) ini hanya untuk pelat-pelat dengan ketebalan 6 mm. Pada pengelasn secara otomatis, pasir yang digunakan sebagai pelindung adalah pasir OK FLOX.

11

 

ASSEMBLY

Pekerjaan yang dilakukan oleh bagian assembly adalah sebagai berikut:

Penggabungan beberapa wrang.

Penggabungan seksi menjadi sebuah blok.

Penggabungan dua block (grand assembly)

Dari seluruh pekerjaan dibagian assembly akan diadakan pemeriksaan oleh badan yang berwenang di perusahaan galangan maupun oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI). Bengkel —–QC——– QA—— KI—— Ship Owner

Prosedur Pemeriksaan

12

Akibat pengelasan akan timbul penarikan (deformasi) biasanya deformasi ini yang diukur adalah antara stiffener dengan stiffener atau antara penguat satu dengan penguat lainnya misal jarak antara deck girder jarak perubahan maksimum 0,6 cm harus dilakukan perbaikan (biasanya pemanasan). Tanda untuk margin (cadangan), Margin/cadangan adalah kelebihan pelat yang diberikan pada setiap sambungan block atau sambungan-sambungan lain yang dianggap perlu, umumnya ditulis + 20 + 30 + 10 dan sebagainya. Dimana pada rambunya sendiri (dari mould loft) hanya ditulis sebagai berikut :

13

Sedangkan pada markingnya diberi kelebihan + 20 mm

 

14

 

ERECTION

Erection merupakan pekerjaan pembangunan badan kapal yang terakhir. Pada pekerjaan ini blok-blok yang telah selesai dikerjakan oleh bagian assembly digabung (disambung/joint) menjadi satu sehingga terbentuklah badan kapal keseluruhan. Dalam penggabungan block satu dengan block lainnya diperlukan pekerjaan awal yaitu pemasangan kupingan, papan pranca, penandaan dll.

Secara garis besar pekerjaan pada bagian erection dapat digolongkan sebagai berikut:

  • Preparation, meliputi pekerjaan pemasangan kupingan, guide plate, marking dan pemasangan papan-papan pranca.
  • Adjusting, meliputi pekerjaan leveling, atau penyamaan, cutting of allowance.
  • Fitting atau penyetelan dimana pada pekerjaan ini dibutuhkan peralatan seperti gerinda, gajung dll. serta dilaksanakan pekerjaan heating untuk menghilangkan deformasi atau tegangan sisa setelah terjadi pengelasan.
  • Welding.atau proses pengelasan.
  • Pengecekan/pemeriksaan pada erection: Structure check, welding, tekanan air dan udara untuk pengecekan tanki, ukuran kapal serta painting check.

Di Indonesia, biasanya setelah kapal memungkinkan untuk diluncurkan, kapal diluncurkan (tempat erection bisa digunakan untuk membangun kapal berikutnya), pekerjaan selanjutnya bisa dilaksanakan di atas dok apung atau di dalam dok gali. Oleh karenanya pengedokan tidak bisa kita lewatkan.

Rencana pengedokan (docking plan)

Dalam pengedokan perlu merencanakan dengan baik meliputi:

  1. Marking posisi ganjel dilantai dock.
  2. Meletakkan ganjel-ganjel (umumnya tepat pada gading-gading, gading besar dan side girder) dan juga harus tepat pada center kapal.
  3. Menentukan ketinggian ganjel dan jarak antar ganjel.
  4. Fitting.
  5. Pemasangan stopper dengan kemiringan 60° sebelum dilaksanakn peletakan ganjel-ganjel (no.2) maka dilaksanakan adjusting (pelurusan).

Gambar-gambar yang diperlukan:

  1. Docking Plan
  2. Working drawing (untuk pekerjaan lanjutan).
  3. Marking list (untuk pekerjaan lanjutan).